Bagaimana sih cara membuat laporan keuangan yang praktis untuk usaha kecil, dan apa saja yang harus dicatat dalam laporan pembukuan itu? Adakah contoh pembukuan usaha yang simpel dan mudah namun sudah memenuhi standar pembukuan keuangan yang baku? Pertanyaan seputar pembukuan usaha seperti itu mungkin sering muncul muncul dalam benak anda.

Sebelum kita membahas satu persatu persoalan di atas ada baiknya anda membaca terlebih dahulu pentingnya membuat pembukuan usaha.

Jangan terlewat membaca Pentingnya Laporan Keuangan Pembukuan Usaha Kecil

Pertama, isi dari pembukuan tentunya semua hal yang berkaitan dengan usaha Anda seperti kas yaitu pengeluaran dan penerimaan harian dari kegiatan bisnis Anda, pembelian barang baik tunai maupun kredit, penjualan barang baik tunai maupun kredit, serta pencatatan utang usaha pada supplier dan pihak lain, serta piutang yang Anda berikan.

Tips Praktis Cara Membuat Laporan Keuangan Usaha

Selain itu juga perlu ada pencatatan harta milik perusahaan, baik harta lancar yang mudah dicairkan dalam 1 tahun, harta tetap untuk operasi perusahaan dan penggunaannya lebih dari 1 tahun, dan harta tetap tidak berwujud seperti merk dagang, hak paten, dll.

Baca juga 3 kesalahan umum perencanaan bisnis plan.

Semua pencatatan tersebut diusahakan dilakukan pada buku yang terpisah secara manual seperti buku pembelian, buku penjualan, buku utang, buku piutang, dll. Sehingga ini akan memudahkan untuk evaluasi dan penyusunan laporan keuangan.

Uraian dalam Laporan Keuangan Usaha

Persoalan lain yang tak jarang juga muncul adalah, apakah sebagai pemilik usaha kita juga boleh mendapatkan gaji dari bisnis kita dan bagaimana cara menghitungnya? Sebagai pemilik usaha Anda berhak mendapatkan bagian laba untuk menggaji Anda sendiri, tentunya ini dilakukan jika usaha Anda sudah balik modal dan telah memberikan keuntungan. Anda bisa mengambil gaji bulanan secara tetap dari usaha Anda tentunya jika omset usaha stabil dan tidak naik turun.

Lalu bagaimana jika omset naik turun? Sebaiknya diambil dari prosentase keuntungan Anda. Lalu bisakah dari prosentase omset? Bisa saja tetapi cara itu tidak dianjurkan karena omset sendiri belum mencerminkan laba karena belum dipotong biaya-biaya. Bagaimana jika setelah Anda ambil gaji ternyata sisanya tidak mencukupi untuk biaya-biaya? Makanya lebih baik ambil dari laba bersih saja.

Untuk bagian laba yang diambil sebagai gaji sebaiknya berkisar antara 20 – 30 % dari laba karena bagian terbesar dari laba semestinya digunakan untuk dana pengembangan usaha, membayar pinjaman, dan investasi peralatan.
Cara membuat pembukuan yang praktis sesuai dengan yang sudah dijelaskan pada pont pertama, yaitu membuat buku kas harian terlebih dahulu yang berisi pemasukan dan pengeluaran dari usaha Anda. Dengan buku kas harian ini Anda dapat menghitung pemasukan dan pengeluaran setiap hari.

Selanjutnya setiap bulan Anda tinggal memindahkan ke dalam laporan laba rugi. Caranya adalah dengan menjumlahkan seluruh total pemasukan terlebih dahulu kemudian dikurangi total pengeluaran selama satu bulan berjalan. Sehingga dapat diketahui posisi laba atau rugi dari usaha Anda dengan menghitung selisih antara pemasukan dan pengeluaran.

Kemudian Anda juga membuat buku catatan barang serta catatan stok barang dagangan baik yang telah terjual ataupun yang belum, serta hutang Anda, piutang serta modal yang digunakan. Ini untuk keperluan menyusun neraca yang menguraikan kekayaan usaha Anda. Selain itu Anda juga melakukan catatan atas biaya penyusutan yang dihitung dari barang investasi usaha anda yang setiap tahunnya akan menyusut.

Demikian sedikit catatan dari Dayausaha.com tentang cara membuat laporan keuangan usaha yang semoga bisa memberikan gambaran buat anda untuk mencoba membuatnya.

Simpan